Pelak Rusuk Indonesia | Dak Lantai Keraton

Februari 1, 2009 pukul 3:40 am | Ditulis dalam Tentang Dak Lantai | Tinggalkan komentar
Tag: , , ,

Pelak Rusuk Indonesia

Di indonesia, tehnologi pelat rusuk sesungguhnya telah masuk secara resmi dengan design jerman yang diperkenalkan oleh UNDP/UNIDO melalui proyek no. INS/74/034. pada suatu penelitian menyeluruh dengan satu rumah contoh di puslitbangkim cipta karya PU turangga tahun 1997.
sejak itu, tiga jenis pelat rusuk telah mulai diperkenalkan. yang pertama adalah pelat rusuk dengan penggabungan pelat baja sebagai dasar bekisting. ini banyak digunakan pada bangunan-bangunan dengan struktur baja. prinsipnya sama, yaitu pembentukan rusuk beton yang berjarak beraturan, dan membentuk pelat tipis yang ringan.
jenis kedua adalah pelat rusuk yang menggunakan beton ringan sebagai pengisinya (lihat paragraf’pengisi pelat rusuk’) sudah banyak digunakan untuk bangunan bertingkat di kota-kota besar di indonesia. kekurangan dari jenis ini adalah sitem pengangkatannya yang masih harus menggunakan ‘krane’, sehingga untuk perkembangannya, masih mempunyai ketergantungan terhadap peralatan angkat tersebut yang masih dianggap mahal.
jenis yang ketiga adalah yang kami kembangkan sejak 1985. sebuah design pelat rusuk menggunakan bahan pengisi yang diadaptasi dari terra cotta (tanah liat bakar) di eropa. bahan pengisi tersebut kami namakan keramik komposit beton, disingkat menjadi ‘keraton’. skema design pelat rusuk yang menggunakan pengisi keraton diberikan dalam gambar 9. jenis ini mampu meningkatkan rumah biasa berlantai dasar menjadi bertingkat dua atau membangun maisonette, ruko, rukan atau rumah susun sederhana tanpa menggunakan krane, cukup dengan tehnik manual saja.
perbedaan ‘keraton’ dengan kedua jenis yang lain adalah efisiensi yang dapat dicapai. yaitu: 50% pada besi beton, 60% pada beton cor, 80% pada bekisting dan waktu pembangunan yang dua kali lebih cepat untuk setiap lantai. ini dimungkinkan karena penulangan hanya searah dan tunggal (one way slab) pengecoran tanpa bekisting, dan pekerjaan di bawah lantai dapat langsung dikerjakan. di samping itu, rongga pada bata blong dapat berfungsi sebagai isolator panas dan bunyi, hal ini merupakan efisiensi yang tentunya tidak pernah terpikirkan sebelumnya sehingga sementara ini pembangunan perumahan, gedung dan lain-lain menunggu tercapainya anggaran yang tersedia padahal dengan tehnik efisien pelat rusuk ini anggaran pembangunan telah mencukupi.
sejak tahun 1985 “keraton” telah digunakan pada + 50 rumah tingkat berlantai 2 s/d 3 sebagai contoh, di masyarakat jakarta. ujung pandang, pemalang, mega mendung, cibulan dan cilegon. dengan design yang dianggap sesuai dengan kebutuhan indonesia. sampai sekarang lebih dari 50 rumah tersebut dalam keadaan tetap kokoh.
ketiga jenis pelat rusuk yang telah mulai diperkenalkan di indonesia ini masing-masing mempunyai segment pasar sendiri-sendiri tetapi mempunyai prinsip dasar yang sama yaitu mengeffisienkan volume bahan, waktu dan tenaga dan pada akhirnya adalah penekanan biaya konstruksi melalui pembentukan rongga-rongga, pengkurusan rusuk beton, pengurangan penggunaan berkisting, dan lain-lain. tentunya masyarakat mempunyai pilihan terhadap ketiga tehnik dan sistem tersebut di atas, mana yang sesuai dengan kebutuhan serta anggarannya.
pengenalan pelat rusuk yang belum menyeluruh menyebabkan perkembangan ketiga sistem pelat rusuk yang telah tersedia di indonesia tersebut di atas agak lambat, karena banyak jajaran akademik masih belum mendapatkan ilmu pengetahuan bahan khusus mengenai pelat rusuk sejak di bangku kuliah, sehingga untuk memiliki keberanian mencoba ilmu yang belum mereka ketahui diperlukan waktu mencari pengalaman terlebih dahulu dengan menunggu dan melihat contoh-contoh.
keberanian masyarakat konstruksi akan lebih terdorong bila pemerintah dapat memberikan stimulant melalui upaya-upaya pendidikan. penerangan dan dukungan melalui pemberian contoh penggunaan teknologi ini pada proyek-proyek gedung pemerintah, sekolah-sekolah, perumnas susun dan lain-lain. dengan contoh-contoh tersebut diatas maka dengan sendirinya mereka akan berani menggukana pelat rusuk ini pada proyek-proyek mereka dan karena biaya kostruksi yang rendah tersebut akan menggairahkan kembali usah real estate dan property mereka yang selama ini terhenti dan tentunya banyak lain runtunan pertumbuhan (multifier effect) yang tumbuh melalui pengembangan pelat rusuk ini.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: